Berita

Peruri Goes to Campus di UNS: Menjawab Risiko dengan Transformasi

29 November 2016

Peruri Goes to Campus di UNS: Menjawab Risiko dengan Transformasi
Foto oleh Admin

Surakarta. Peruri kembali menggelar Peruri Goes to Campus (PGTC), yang kali ini bertempat di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dalam rangkaian roadshow-nya setelah program serupa yang dijalankan di beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia pada 2016 ini, yaitu Universitas Airlangga (Unair)-Surabaya, Universitas Diponegoro (Undip)-Semarang, Universitas Pembangungan Negara (UPN) Veteran-Jakarta, dan PPM Manajemen-Jakarta. Acara PGTC ini merupakan rangkaian dari kegiatan International Conference yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UNS, berkolaborasi dengan Academy for Global Business Advancement (AGBA) USA. Direktur Utama Peruri, Dr. Prasetio, diterima secara khusus oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Ravik Karsidi M.S. di ruang kerjanya pada pagi hari sebelum pelaksanaan PGTC karena Ravik tidak dapat menghadiri acara PGTC. Namun demikian, Rektor UNS menyambut baik kegiatan PGTC, dimana diharapkan semakin terjalin hubungan baik antara lembaga akademis dengan BUMN. Dalam ramah tamah tersebut Rektor UNS mengungkapkan pentingnya acara-acara semacam PGTC ini, dimana BUMN hadir di lingkungan akademisi karena UNS pun selaras dengan Peruri dimana semakin berkiprah di dunia global/internasional. Rektor UNS juga berharap agar kerjasama antara UNS dan Peruri dapat berlanjut dalam bentuk kegiatan yang saling memberikan manfaat, serta mendukung pencapaian visi dan misi kedua belah pihak.

Tujuan PGTC adalah untuk mensosialisasikan new corporate identity Peruri yang diresmikan pada 28 Januari 2016. Lingkungan akademisi dipandang sebagai target yang baik untuk sosialisasi identitas korporasi baru mengingat sifat kritis dan logika berpikir yang baik dari para civitas akademikanya.  

Program PGTC di UNS berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan dihadiri oleh Wakil Rektor 1 UNS Prof. Sutarno yang mewakili Rektor UNS beserta Dekan FEB Dr. Dr. Hunik Sri Runing Sawitri M.Si., dengan kehadiran kurang lebih 200 mahasiswa di lingkungan FEB serta beberapa fakultas lain yang terkait. Format acara PGTC yang berupa Talkshow dan Bedah Buku ini berlangsung menarik dengan moderatordari lingkungan FEB Linggar Ikhsan Nugroho, S.E., M.Ec.Dev, serta 3 (tiga) orang Doktor sebagai pembedah, masing-masing : Dr. Hidajat Hendarsjah, M.Si. (Dilema BUMN), Dr. Ari Kuncoro, M.Si. (It Goes without Saying), dan Dr. Suryanto, M.Si. (Out of Comfort Zone).

Dalam pengantarnya, Prasetio menjelaskan secara gamblang mengenai ketiga buku yang dibedah. Mengenai buku Dilema BUMN, Prasetio mengungkapkan bahwa business judgement rule (BJR) dan good corporate government (GCG) merupakan hal yang seharusnya menjadi landasan pengambilan keputusan bagi para pimpinan puncak di BUMN yang pada kenyataannya terikat oleh lebih banyak peraturan dibanding korporasi swasta.  Secara berseloroh, Prasetio memberikan ungkapan pribadinya, yaitu “tidur nyenyak” dulu, baru “makan enak”. Hal ini mengandung arti bahwa selayaknya pengelola bisnis di BUMN tidak hanya memikirkan bagaimana terus mengejar keuntungan bisnis semata (“makan enak”), namun juga mengimbanginya dengan melakukan langkah-langkah aplikatif dan antisipatif untuk membangun budaya risk management agar di belakang hari seluruh keputusan pimpinan puncak dapat ditelusur dan dapat dipertanggung jawabkan dengan baik serta tidak memiliki implikasi terkait penyimpangan terhadap aturan yang berlaku (diistilahkan dengan “tidur nyenyak”). Hal itu merupakan sharing pengalamannya dalam membangun budaya risiko melekat di Peruri yang dituangkan dalam buku keduanya yaitu It Goes Without Saying (arti idiom: memang seharusnya demikian, tidak usah dikatakan lagi). Ketiga buku ini sesungguhnya adalah sebuah rangkaian urutan. Buku terakhir, Out of Comfort Zone, adalah tentang proses membangun transformasi di Peruri. Dengan kata lain, Prasetio ingin menyampaikan bahwa satu-satunya jalan untuk menjawab risiko adalah dengan transformasi.

Pendapat dari pembedah buku yang berlatar belakang akademisi, secara umum dapat disampaikan bahwa terbitnya ketiga buku yang ditulis oleh Dirut Peruri ini dapat memberikan inspirasi bagi berbagai pihak. Bagi para pengambil keputusan di bidang korporasi (BUMN), buku ini dapat dijadikan bahan pembelajaran yang sangat berharga mengenai bagaimana mengelola dan mengambil keputusan korporasi. Bagi civitas akademisi (dosen dan mahasiswa), buku ini sangat menginspirasi untuk dijadikan gambaran umum dunia praktisi, untuk selanjutnya dapat meberikan ide-ide yang dapat dakembangkan dalam topik penelitian/riset, khususnya di bidang korporasi. Para pembedah buku juga mempunyai harapan kepada Prasetio untuk melanjutkan berkarya dan memberikan sharing knowledge bagi dunia akademisi.

Proses sharing knowledge semacam ini sangat penting untuk membuka wawasan para mahasiswa. Dirut Peruri mengungkapkan kunci untuk bekerja profesional. “Perlu dipahami bahwa transfer of knowledge maupun transfer of knowhow memerlukan simbiosis mutualisme darikedua belah pihak, perlu saling terbuka dan memahami bahwa setiap posisi memerlukan peran dan tanggung jawab masing-masing. Prinsipnya tidak ada orang yang bisa sukses sendiri. Semuanya memerlukan kerja sama dan dukungan orang lain”, ujarnya.